Barangkali di antara para pembaca ada yang berpikir bahwa judul di atas terlalu berlebihan dan berkata dalam hati, "Mengapa membaca watak dan kepribadian diri sendiri?" Emang sekilas judul di atas kurang menarik dan tidak berarti, Sebab membaca watak dan kepribadian diri sendiri seakan-akan demikian mudahnya. namun betulkah kita mampu membaca dan mengenal kepribadian kita? kiranya, tak semua orang dapat dan mampu mengenal wataknya, pribadinya dan cara hidup yang dialami. sebaliknya, banyak orang yang tak menyadari jalan hidupnya, watak dan kepribadiannya. dengan demikian mereka kehilingan dimensi dirinya yang lain. secara tak sadar mereka bertannya siapakah aku ini sebenarnya.
Mengenal watak dan kepribadian diri sendiri amatlah penting. berusaha untuk mengenal diri sendiri, dan siapakah kita sebenarnya, maka akan membantu kita kepada kemantapan hidup, dan dengan suatu pendirian yang kokoh sebagai landasannya. Seseorang yang tidak tahu siapa dirinya, biasanya kehidupannya menjadi ngambang, tak mempunyai falsafah yang pasti dan sering berlari dari beban dan kenyataan yang di hadapinya. namun bagi orang yang sadar diri, dan mengenal wataknya secara sempurna, maka ia akan bisa hidup dan berkeyakinan serta percaya pada kemampuan diri sendiri. Bermain cinta dengan penuh tanggung jawab, atau melaksanakan suatu tugas dengan keyakinan yang teguh adalah suatu contoh bahwa ia adalah seseorang yang mempunyai kesadaran untuk membuktikan dan mencari watak yang sebenarnya.
Dalam kenyataan, sering kali kita terbawa pada kepalsuan hidup yang mengantarkan diri kita pada keadaan yang abstrak. artinya, kita sering terhanyut pada pemikiran yang tinggi dan jauh dari kenyataan yang ada pada diri sendiri. Misal suatu hari kita berada dalam kesendirian menghayal yang tak ada juntrungnya, menjadi orang kaya yang bermiliyaran uangnya. Atau kadang kita mempunyai keinginan yang tinggi dan tak sesuai dengan kenyataan yang ada. Hal semacam itulah yang menandakan bahwa kita telah kehilangan diri kita sendiri. Sebenarnya, indikasi semacam itu merupakan suatu penanda bahwa kita adalah sosok yang tak mampu mengenal pribadi dan watak kita.
Sebaliknya, kita sering menjumpai seseorang yang penuh kegairahan dalam menempuh kehidupannya, semengat dalam memperjuangkan cita- cita dan harapannya, dan serta memusatkan perhatian pada kehidupan nyata yang dialami, itulah cermin orang yang telah mengenal watak dan pribadinya sendiri. Apakah selama ini anda mengkhayal pada kehidupan yang muluk- muluk? Apaka anda sadar terhadap diri anda sendiri? Apakah selama ini anda sering tak berani dan lari dari penderitaan hidup? Seandainya demikian, berarti anda masih belum menyadari siapa diri anda sebenarnya, bagaimana watak dan pribadi anda, dan anda belum menyadari kondisi anda dalam kenyataan yang ada.
khayalan yang muluk- muluk
Khayalan sering mengantarkan seseorang pada alam yang abstrak, yang setelah proses itu selesai maka kita di hadapkan pada kondisi yang mengecewakan.
Orang yang suka mengkhayal secara tidak langsung mengharapkan dan mendampakan keinginan yang berlebihan dan bentuk permintaan tanpa syarat. Dan perlu kita ketahui permintaan tanpa syarat akan melahirkan kecemasan. oleh sebab itu mulai sekarang hendaknya kita berusaha mengenal siapa diri kita sebenarnya. caranya adalah menyadari kenyataan yang ada pada diri sendiri, tanpa bercermin pada orang lain yang tingkat hidupnya di atas kita. "Just do it lah Friend."
Orang yang memaksakan dirinya melebihi dari kenyataannya sendiri, maka yang ditemukan adalah kekecewaan dan kecemasan belaka. ini berarti ia belum bisa dan belum mampu menyelami karakter serta diri pribadinya.
Egosentris
Istilah egosentris dalam pembicaraan ini kita istilahkan saja sebagai pendewasaan diri orang- orang yang mengharapkan perhatian dari orang lain, mementingkan dirinya sendiri dan berusaha melindunginya dari kenyataan yang ada. Dengan kata lain, orang- orang semacam ini sudah dihinggapi perasaan takut yang perwujudannya adalah dalam bentuk tingkah laku yang destruktif. Suka berkelahi, mudah tersinggung dan marah-marah serta pula bersifat pasif, tak berani mengambil keputusan apa- apa.
Egosentris berkaitan erat dengan pertahanan diri. Misalkan seseorang yang selalu bertindak destruktif merupakan lambang dan peryataan bawah sadar, ia ingin mempertahankan diri. Bentuk pertahanan diri semacam itu sebenarnya karena orang yang bersangkutan mempunyai rasa takut. Sikap berkepala batu dan tertutup saran serta kritik dari orang lain merupakan pencerminan ia tidak bisa menemukan keberadaan wataknya sendiri.
Kebanyakan diri kita meninggalkan karakter ( Watak) kita pribadi dan bercermin pada watak orang lain, ini dilakukan dengan tujuan agar kita mendapat pengakuan bahwa kita seperti orang yang kira contoh itu. Oleh sebab itu, belajar untuk menyadari diri kita sebenarnya adalah amat penting dan sangat mutlak diperlukan.



0 komentar:
Posting Komentar